• Facebook Rocks

    Go to Blogger edit html and replace these slide 1 description with your own words. ...

  • Facebook vs Twitter

    Go to Blogger edit html and replace these slide 2 description with your own words. ...

  • Facebook Marketing

    Go to Blogger edit html and replace these slide 3 description with your own words. ...

  • Facebook and Google

    Go to Blogger edit html and replace these slide 4 description with your own words. ...

  • Facebook Tips

    Go to Blogger edit html and replace these slide 5 description with your own words. ...

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Siswa SLB Diarahkan Berwirausaha

Depok --- Guru dan instruktur Sekolah Luar Biasa (SLB) diminta untuk mengarahkan siswanya  berwirausaha. Hal tersebut dinilai penting dikarenakan saat ini baru sebagian kecil dari mereka yang berkesempatan untuk bekerja di tempat formal. Demikian disampaikan Mudjito,Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, (PKLK) Pendidikan Dasar Kemdikbud, usai membuka kegiatan sertifikasi keterampilan khusus, di Gedung P4TK Bisnis dan Pariwisata, Depok Jawa Barat, Sabtu (7/7).
“Tujuannya adalah untuk memandirikan anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya. Di negara-negara maju, kata Mudjito, ada kecenderungan bagi perusahaan-perusahaan untuk menggunakan anak-anak autis untuk mengerjakan kegiatan yang berulang. Dan di beberapa negara lain, mereka menggunakan anak-anak yang cepat bosan untuk menginovasi tempat-tempat baru. “Pelatihan ini membuka peluang untuk kesempatan-kesempatan baru. Mindsetnya harus diubah,” katanya.
Mudjito menjelaskan, saat ini telah berdiri 33 sentra besar untuk pendidikan dan latihan guru-guru yang mendidik anak berkebutuhan khusus. Setiap provinsi memiliki satu sentra besar. Dan untuk subsentra, setidaknya ada 106 subsentra yang telah berdiri. “Mereka dibekali dengan berbagai jenis keterampilan, tapi tidak selalu puas dengan hasil yang dicapai,” tuturnya.
Tidak mudah bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk masuk ke masyarakat dan terima di dunia industri. Dan sebagai pihak yang bertanggung jawab pada pendidikan mereka, Kemdikbud meyakini anak-anak tersebut tidak boleh dibuat tergantung pada orang lain. Dengan segala keterbatasannya, mereka bisa membuka bidang usaha. “Mereka lebih baik diberi pengetahuan dan kecakapan enterpreneurship,” katanya.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Kemdikbud menggandeng perusahaan Ciputra untuk mencari konsep yang pas bagi anak berkebutuhan khusus dalam berwirausaha. Meskipun bidang ini baru dilakoni Ciputra, namun mereka antusias untuk bekerja sama. Hal tersebut diungkapkan oleh perwakilan Ciputra, Albertus, yang ikut hadir dalam pembukaan kegiatan. “Kita bekerja sama dengan Kemdikbud fokus untuk difable. Dengan adanya kerja sama ini, akan menciptakan enterpreneur yang kreatif dan inovatif,” pungkasnya. (AR)

(sumber: http://www.kemdiknas.go.id)

Tak Ada Lagi Dikotomi PAUD Formal dan Nonformal

BANDUNG, Perubahan numenklatur struktur Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Ditjen PNFI) menjadi Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI) membawa pengaruh membesarnya cakupan garapan, termasuk di dalamnya dengan bergabungnya TK (taman kanak-kanak) dalam satu payung.

Itu berarti tidak ada lagi dikotomi PAUD formal dan PAUD informal. Jadi, sekarang ini keduanya satu payung dibawah Direktorat Pembinaan PAUD. Hal ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat sehingga di lapangan semuanya paham. Ini menjadi tugas kita bersama termasuk organisasi mitra Ditjen PAUDNI,� tegas Sekretaris Ditjen PAUDNI, Gutama saat membuka Rakor PAUDNI dengan Mitra Ditjen PAUDNI di Bandung, Senin (25/7).

Dalam kesempatan itu, dia meminta organisasi mitra yang terdiri atas tim penggerak PKK, Kowani, GOPTKI, Aisyiah, Muslimat NU, Himpaudi, Badan Koordinasi Organisasi Wanita, IGTKI, Himpunan Penyelenggara Kursus dan Pelatihan Indonesia dan unsur dinas pendidikan, yang diwakili Kabid Pendidikan Nonformal dan Informal, turut mensosialisasikan perubahan numenklatur tersebut sehingga tidak ada kasalahpahaman di masyarakat.

Menurut Gutama, kebijakan dan program Ditjen PAUDNI sebagus apapun tanpa bantuan organisasi mitra tidak akan berarti apa-apa, tidak akan berjalan sesuai harapan bila tidak dibantu masyarakat atau stake holdernya.

Karena itu, kami berharap tim penggerak PKK, Kowani, GOPTKI, Aisyiah, Muslimat NU, Himpaudi, Badan Koordinasi Organisasi Wanita, IGTKI, Himpunan Penyelenggara Kursus dan Pelatihan Indonesia dan instansi atau lembaga lain yang selama ini telah bekerjasama dengan Ditjen PAUDNI, tetap konsisten membantu mengimplementasikan program-program PAUDNI. Sebab, organisasi mitra Ditjen PAUDNI ujung tombak di lapangan,� tandasnya.

Sesditjen PAUDNI mengemukakan, seiring dengan bergabungnya TK PAUD ke depan PAUD lebih dikembang lagi. Jadi, di lapangan masyarakat yang memiliki PAUD kalau bisa mengembangkan TK. Begitu juga sebaliknya, bagi masyarakat yang sudah mendirikan TK dikembangkan lagi dengan menyelenggarakan Kelompok Bermain (KB), TPA (Taman Penitipan Anak) dan Satuan PAUD Sejenis yang jumlahnya sangat beragam.

Pemerintah menargetkan angka partisipasi kasar (APK) PAUD pada 2015 mendatang diharapkan mencapai 75 persen. Target atau sasaran tersebut dapat tercapai bila ada dukungan dari masyarakat, yaitu organisasi mitra dan dinas pendidikan setempat. Apalagi, pemerintah juga menargetkan tepat 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045, PAUD ini menjadi potensi. Sebab, anak PAUD sekarang pada tahun tersebut akan menjadi generasi di masa depan, generasi yang andal,� tegasnya.

Karena itu, tambah Sesditjen PAUDNI, Gutama, pemerintah saat ini memberikan berbagai terobosan tidak saja peserta didik yang menjadi garapan, tapi juga orangtua yang memiliki anak PAUD. �Kita bidik dengan program parenting. Jadi, orangtua anak PAUD juga kita didik bagaimana mendidik anak yang benar,� paparnya.

Jadi, ujarnya, orangtua khususnya kaum ibu bukan saja pendidik pertama, tapi juga pendidik utama dalam keluarga. Karena itu, peran ibu sangat besar dan menentukan generasi kita di masa mendatang. Peran ibu juga sangat penting dan berat mengingat saat ini tantangan di lingkungan keluarga begitu banyak. Mulai dari siaran televisi, buku cabul, CD porno dan situs yang tidak bertanggungjawab. Untuk itu, ibu jangan sampai kecolongan.

Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Sesditjen PAUDNI, I Gde Panca mengemukakan, secara umum pencapaian target nasional program di lingkungan Ditjen PAUDNI menunjukan kemajuan yang cukup baik.

Hal itu dapat dilihat dari indikasi menurunnya angka buta aksara bagi penduduk berusia di atas 15 tahun, tertampungnya lulusan program kecakapan hidup di dunia kerja, meningkatnya jumlah tenaga pendidik PAUDNI yang berkualifikasi pendidikan, meningkatnya kepedulian gender dalam lingkungan pendidikan, ujarnya.(mulia)

(sumber: http://www.itjen.depdiknas.go.id)

Indonesia - Selandia Baru Kerja Sama Eksplorasi Geotermal

Yogyakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjalin kerja sama bilateral dengan Selandia Baru dalam eksplorasi geotermal. Geotermal terbesar di dunia bersumber dari Indonesia. Namun sumber yang besar tersebut baru lima persen digunakan. Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, saat konferensi pers penutupan East Asia Meeting di Yogyakarta, Kamis (5/07).
Mendikbud mengatakan, Selandia Baru memiliki teknologi yang bagus di bidang geotermal. Kolaborasi kedua negara ini diharapkan akan mengoptimalkan geotermal sebagai pengganti sumber energi bahan bakar. "Jika telah dieksplor bisa menjadi sumber energi, jadi tidak diperlukan lagi bahan bakar," katanya.
Diakui Mendikbud, investasi awal untuk eksplorasi geotermal sangat besar. Namun, biaya investasi tersebut sebanding dengan nilai yang diperoleh jika penelitian dan eksplorasi geotermal ini berhasil. "Biaya investasinya sangat besar, tapi nanti untuk operasionalnya akan jauh lebih hemat. Karena tidak lagi menggunakan bahan bakar," terangnya.
Untuk melakukan kerja sama ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) diberi amanat untuk melakukan penelitian. Kerja sama Indonesia dan Selandia Baru ini sudah mulai dijalankan. "Tadi pagi, Saya bersama Rektor ITB dan ITS sudah melakukan pembicaraan bilateral dengan pemerintah Selandia Baru," katanya. (AR)

(sumber: http://tve.kemdikbud.go.id/index.php/info/3-newsflash/408-indonesia-selandia-baru-kerja-sama-eksplorasi-geotermal)

6 Strategi Mendidik Anak Terbiasa Rapi

Anda harus terlebih dulu memberi contoh bagaimana cara merapikan dan mengatur barang-barang.
KOMPAS.com - Anak yang pintar membereskan mainan setelah selesai bermain, menaruh barang-barang pada tempatnya, dan mau membersihkan kamarnya sendiri, tidak bisa didapatkan hanya dalam satu-dua hari. Tidak juga dengan cara membujuknya dengan imbalan atau dengan cara mengancam. Menurut ahli, Anda perlu mengajarkannya sejak usia dini.
"Mulailah mengajarkan anak pentingnya merapikan barang-barang sejak awal, sehingga lama-lama mereka akan terbiasa," kata Dr Donna Thomas-Rodgers, seorang penulis dan leadership coach. Berikut adalah konsep dasar seputar kerapian yang perlu mereka kuasai:

1. Rapikan setelah selesai
Ajarkan pada anak untuk membiasakan diri mengembalikan mainan pada tempatnya setelah selesai bermain. Atau, memasukkan pakaian ke keranjang baju kotor setelah dipakai. "Anda juga bisa mengajarkan mereka untuk mengembalikan satu mainan ke tempatnya, sebelum ia mengambil mainan lainnya," kata professional organizer Sarah Giller Nelson. "Dengan demikian, anak akan mengetahui bahwa setiap benda itu ada tempat penyimpanannya."

2. Siapkan penyimpanan
Langkah selanjutnya adalah menempatkan wadah di setiap kamar untuk dijadikan tempat menaruh barang-barang anak. "Bentuknya bisa berupa kontainer atau keranjang. Tempelkan label untuk setiap wadah agar anak terbiasa menaruh benda pada tempat yang tepat. Atau, gunakan label berbentuk gambar bila anak Anda masih belum bisa membaca," kata Marie Stegner, consumer health advocate dari Maid Brigade.

3. Berikan contoh
Anak-anak belajar dengan cara meniru orangtuanya. Itu berarti, Anda harus terlebih dulu memberi contoh bagaimana cara merapikan dan mengatur barang-barang. Anda bisa memulai dengan cara mengajak mereka bersama membereskan barang belanjaan, melipat baju, atau memunguti mainan yang masih tergeletak di lantai. Sedikit demi sedikit, berikan tanggung jawab lebih pada mereka, sehingga pada akhirnya mereka akan terbiasa membereskan barang-barangnya sendiri.

4. Buatlah kalender
Mengajarkan anak-anak pentingnya merawat diri sendiri adalah bagian yang penting dalam usaha untuk menjadikan anak terbiasa rapi. Mereka perlu diajarkan bagaimana cara mencuci tangan dan wajah, menggosok gigi, dan menyisir rambut. Agar kebiasaan ini bisa terwujud, Candi Wingate, Presiden dari Nannies4Hire, merekomendasikan orangtua untuk memiliki semacam kalender.
"Tempelkan di dinding dan tandailah hari-hari ketika anak berhasil merawat dirinya secara menyeluruh. Berikan hadiah bila mereka sudah berhasil melalui fase tertentu, misalnya dalam jangka waktu satu bulan," kata Wingate. Hadiah itu bisa berupa stiker atau aksesori rambut untuk anak perempuan.

5. Ajarkan anak konsekuensi hidup tidak rapi
Terkadang, anak akan lebih cepat belajar dari pengalaman mereka sendiri. Anda dapat menyiasatinya dengan menetapkan aturan untuk seisi rumah, namun melimpahkan tanggung jawab atas kamar tidur pada setiap anak. Tidak perlu bertindak apa pun jika anak tidak ingin membereskan mainan di kamarnya, karena nantinya mereka akan mengalami sendiri betapa tidak nyamannya tidur di kamar yang berantakan.
"Yang perlu dipahami, anak-anak itu selalu punya kecenderungan untuk tidak rapi. Orangtua harus membiarkan mereka melakukannya. Yang penting, mereka mau membereskan semuanya setelah selesai," kata Stegner.

(sumber: http://female.kompas.com/)

Anak Lambat Belajar Bisa Sukses Jadi Pengusaha

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemilik bisnis kosmetik ternama Martha Tilaar pernah divonis sebagai anak yang lambat belajar alias slow learner. Namun, dia mampu mengembangkan potensinya sebagai pebisnis sukses di bidang kosmetik yang menggali dari kekayaan alam negeri ini.
"Saya sempat minder. Ranking tiga dari belakang di kelas. Tetapi, untungnya saya punya ibu dan keluarga yang selalu memotivasi," kata Martha dalam acara peluncuran buku dan HUT ke-80 suaminya HAR Tilaar, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di Jakarta, Sabtu (7/7/2012).
Menurut Martha, dirinya lemah jika disuruh belajar Matematika dan ilmu pasti lainnya. Namun, dia menyenangi sejarah, budaya, dan lingkungan hidup. "IQ memang jongkok. Tetapi, ibu saya membekali saya dengan kreativitas. Dari kecil saya diajar untuk bisa mengembangkan hal-hal kreatif yang ada di sekeliling sehingga menghasilkan uang. Dari sinilah, jiwa bisnis saya dengan bekal kreativitas tumbuh dan berkembang," ujar Martha.
Menurut Martha, yang kini jadi pengajar di bidang herbal di pascasarjana Universitas Indonesia, dalam mendidik anak-anak slow learner, yang penting terus dimotivasi. Anak-anak ini harus dilihat potensinya sehingga dapat berkembang maksimal.
Dorongan ibu, keluarga, dan suami tercinta mampu membuat Martha terus mengembangkan potensi dirinya sebagai pengusaha kosmetik yang memanfaatkan ramuan tradisional yang dikombinasikan dengan teknologi modern. Alhasil, usaha bisnisnya di bidang kosmetik berkembang pesat dan mendapat pengakuan di dalam dan luar negeri.
Bahkan, Martha terpilih menjadi satu dari 14 anggota Global Compact Board di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga ini sebagai badan penasihat tertinggi pada PBB yang melibatkan organisasi bisnis, masyarakat sipil, pekerja, dan pengusaha.
Martha juga mendapat gelar doktor honoris causa dari kampus di Amerika Serikat. Di dalam negeri, Martha fokus untuk memberdayakan para perempuan, pengembangan kewirausahaan, hingga kepedulian pada lingkungan hidup lewat pendirian Kampung Djamu Organik di Cikarang, Bekasi.
Martha berharap supaya pendidikan di Indonesia dapat mengutamakan pengembangan potensi setiap anak. Pendidikan di sekolah tidak hanya untuk menghasilkan anak-anak pintar. "Yang perlu saat ini, anak-anak bisa menjadi pribadi yang kreatif dalam bidang yang disukainya," kata Martha. 

(sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/07/07/16530275/Anak.Lambat.Belajar.Bisa.Sukses.Jadi.Pengusaha)